Senja Milik Aira
Senja yang selalu ku rindu kini hanya bisa aku nikamti sendiri.
“dulu, senja ini selalu kita nikmati berdua, tapi tidak dengan sekarang senja ini kunikamti seorang diri” ucap Aira pada diri sendiri
“aku rindu kamu senja” tak terasa, air mata yang berusaha aku tahan akhirnya jatuh juga.
“hati yang kosong,perasaan yang hampa, pergilah jangan kau ganggu dia” terdengar ucapan seseorang disampingku. Suara itu, yah aku merindukannya.
“ka, aku…” belum selesai aku bicara Zidane sudah menempelkan jarinya dibibirku
“udah, nikmati dulu senjanya,karena senja ini milikmu” ucap Zidane yang kemudian tidur disampingku
“ka..?” panngilku tanpa meliriknya
“hmmm” jawabnya
“Ka Zidane rindu, menikmati senja sama aku kaya dulu?” tanyaku tetap dengan memandang langit.
“yes, tepat banget kaya pertanyaanmu” jawabnya dengan menyimpan tangan di belakang kepalanya.
“aku kira Ka Zidane sudah lupa dengan tempat ini” ucapku, namun tak ada respon, lalu aku menengok ke arahnya.
“kayanya senjamu sudah pamit untuk pergi. Ayo kita pulang” Zidane bangkit dari posisi tidurnya. Kemudian membantuku untuk berdiri.
“Aku masih ingin tetap sama kaka” ucapku dengan sedikit manja.
“maaf, kita cuma bisa bersama sampai ujung jalan sana. Kamu dateng aja ke rumah, malam ini” ucap Zidane dengan menggandeng tanganku.
Tibalah kami di ujung jalan, dan ini waktunya kami berpisah sebelum akhirnya bertemu lagi nanti jam 8 malam. Di sepanjang jalan Aira merasa ada yang aneh dengan Zidane, tapi sudahlah mungkin dia lelah karena baru pulang dari Surabaya.
Tak terasa waktu begitu cepat,
“Ra, kita jadi kan ke rumah Ka Zidane?” ucap temanku Dewi yang kedatangannya tidak aku sadari.
“Jadi kok Wi” jawabku.
“Kalo gitu ayo berangkat” ucapnya, kami pun pergi menuju rumah Zidane.
Aku merasa Dewi kali ini bersikap tidak seperti biasanya, Dewi yang periang kenapa sekarang menjadi murung.
Kami hampir sampai di rumah pacarku, Zidane.
“Ra, aku minta maaf ya” ucapnya dengan wajah tidak seperti Dewi yang aku kenal.
“Loh kenapa kamu minta maaf Wi, kamu kan gak salah apa-apa” jawabku.
“Nanti kamu tahu sendiri, aku cuma bisa nganter kamu sampai sini yah Ra kamu gak papa kan ke sana sendirian.” Ucap Dewi, dan aku merasa Dewi sangat aneh hari ini.
“Oh iya gak papa kok Wi, makasih yah udah mau ganter” jawabku, tanpa menjawab Dewi langsung pergi.
Aira melanjutkan perjalanan yang sudah sangat dekat dengan rumah Zidane, ketika sampai kulihat banyak sekali orang berpakaian serba hitam di sana, yang menjadi pertanyaannya kenapa orangtua Dewi juga ada di sini, dan menangis.
Saat Aira masuk ke halaman rumah, orang tua Zidane menenangkanku, ibunya melukku dengan sangat erat.
“Kenapa ibu menangis?” Tanyaku kebingungan.
“Ra,Zidane udah gak ada” jawab ayah Zidane.
Mereka membawaku masuk ke dalam rumah, menunggu jenazah Zidane yang sedang dalam perjalanan.
“Kapan kejadiannya ayah?” Aira bertanya kepada ayah Zidane.
“Tadi sore, sekitar jam 4” jawab ayah Zidane, Aira tidak percaya.
“Enggak yah, engga mungkin kejadiannya jam 4 sore, Ka Zidane nemuin aku jam 5 dan kami berdua bersama sampai jam 6, Ka Zidane bilang dia baru aja pulang dari Surabaya” Aira menyangkal jawaban ayah Zidane.
Aira melihat ayah Zidane seperti kebingungan. Kemudian ayah`a menjelaskan semuanya.
“Tidak Ra, Zidane sudah pulang dari surabaya kemarin, dan tadi sekitar jam 2 dia pamit untuk menemui pacarnya, ayah kira dia akan bertemu denganmu, jam 4 ayah menerima telepon dari rumah sakit, mereka menerima pasien yang meninggal akibat menerobos palang kereta api, korban itu adalah Zidane Ra” ucap ayah Zidane.
“Kalau Ka Zidane udah gak ada dari jam 4, terus siapa yang nemenin aku menikmati senja?” tiba-tiba tubuhku menjadi lemas dan seketika itu pula aku tidak sadarkan diri.
Seminggu kemudian..
Aira masih disini,tetap setia dengan sebuket bunga kamboja yang selalu ia tingglkan di atas batu nisan Zidane.
Semuanya terasa seperti mimpi,Zidae yang meninggalkannya dengan sangat tiba-tiba.
“Ka Zidane jahat, pergi tanpa pamit. Meninggalkan sejuta rasa sakit dan rindu secara bersaamaan” air mata itu selalu jatuh,setiap kali Aira datang kesini. Rasanya seperti kemarin ia baru saja bertemu dengan Zidane , kini dia sudah meninggalkan Aira untuk selamanya.
Aira mengusap batu nisan bernama ZINEDINE ZIDANE itu “ ka, izinin aku mendapatkan kembali kehidupan yang dulu lagi, bukan maksud melupakanmu. Aku hanya ingin bangkit dari keterpurukan ini” angin sore menerbangkan rambutnya yang di gerai “Ka Zidane akan tetap ada dihatiku dan selalu aku bisa rasakan kehadirannya di langit , karna Ka Zidane adalah senjaku.
Sore itu Aira kembali dengan perasaan yang lebih baik, dia akan melanjutkan hidupnya seperti sedia kala. Dia yakin itulah yang diingikan Zidane untuk dirinya.
“dulu, senja ini selalu kita nikmati berdua, tapi tidak dengan sekarang senja ini kunikamti seorang diri” ucap Aira pada diri sendiri
“aku rindu kamu senja” tak terasa, air mata yang berusaha aku tahan akhirnya jatuh juga.
“hati yang kosong,perasaan yang hampa, pergilah jangan kau ganggu dia” terdengar ucapan seseorang disampingku. Suara itu, yah aku merindukannya.
“ka, aku…” belum selesai aku bicara Zidane sudah menempelkan jarinya dibibirku
“udah, nikmati dulu senjanya,karena senja ini milikmu” ucap Zidane yang kemudian tidur disampingku
“ka..?” panngilku tanpa meliriknya
“hmmm” jawabnya
“Ka Zidane rindu, menikmati senja sama aku kaya dulu?” tanyaku tetap dengan memandang langit.
“yes, tepat banget kaya pertanyaanmu” jawabnya dengan menyimpan tangan di belakang kepalanya.
“aku kira Ka Zidane sudah lupa dengan tempat ini” ucapku, namun tak ada respon, lalu aku menengok ke arahnya.
“kayanya senjamu sudah pamit untuk pergi. Ayo kita pulang” Zidane bangkit dari posisi tidurnya. Kemudian membantuku untuk berdiri.
“Aku masih ingin tetap sama kaka” ucapku dengan sedikit manja.
“maaf, kita cuma bisa bersama sampai ujung jalan sana. Kamu dateng aja ke rumah, malam ini” ucap Zidane dengan menggandeng tanganku.
Tibalah kami di ujung jalan, dan ini waktunya kami berpisah sebelum akhirnya bertemu lagi nanti jam 8 malam. Di sepanjang jalan Aira merasa ada yang aneh dengan Zidane, tapi sudahlah mungkin dia lelah karena baru pulang dari Surabaya.
Tak terasa waktu begitu cepat,
“Ra, kita jadi kan ke rumah Ka Zidane?” ucap temanku Dewi yang kedatangannya tidak aku sadari.
“Jadi kok Wi” jawabku.
“Kalo gitu ayo berangkat” ucapnya, kami pun pergi menuju rumah Zidane.
Aku merasa Dewi kali ini bersikap tidak seperti biasanya, Dewi yang periang kenapa sekarang menjadi murung.
Kami hampir sampai di rumah pacarku, Zidane.
“Ra, aku minta maaf ya” ucapnya dengan wajah tidak seperti Dewi yang aku kenal.
“Loh kenapa kamu minta maaf Wi, kamu kan gak salah apa-apa” jawabku.
“Nanti kamu tahu sendiri, aku cuma bisa nganter kamu sampai sini yah Ra kamu gak papa kan ke sana sendirian.” Ucap Dewi, dan aku merasa Dewi sangat aneh hari ini.
“Oh iya gak papa kok Wi, makasih yah udah mau ganter” jawabku, tanpa menjawab Dewi langsung pergi.
Aira melanjutkan perjalanan yang sudah sangat dekat dengan rumah Zidane, ketika sampai kulihat banyak sekali orang berpakaian serba hitam di sana, yang menjadi pertanyaannya kenapa orangtua Dewi juga ada di sini, dan menangis.
Saat Aira masuk ke halaman rumah, orang tua Zidane menenangkanku, ibunya melukku dengan sangat erat.
“Kenapa ibu menangis?” Tanyaku kebingungan.
“Ra,Zidane udah gak ada” jawab ayah Zidane.
Mereka membawaku masuk ke dalam rumah, menunggu jenazah Zidane yang sedang dalam perjalanan.
“Kapan kejadiannya ayah?” Aira bertanya kepada ayah Zidane.
“Tadi sore, sekitar jam 4” jawab ayah Zidane, Aira tidak percaya.
“Enggak yah, engga mungkin kejadiannya jam 4 sore, Ka Zidane nemuin aku jam 5 dan kami berdua bersama sampai jam 6, Ka Zidane bilang dia baru aja pulang dari Surabaya” Aira menyangkal jawaban ayah Zidane.
Aira melihat ayah Zidane seperti kebingungan. Kemudian ayah`a menjelaskan semuanya.
“Tidak Ra, Zidane sudah pulang dari surabaya kemarin, dan tadi sekitar jam 2 dia pamit untuk menemui pacarnya, ayah kira dia akan bertemu denganmu, jam 4 ayah menerima telepon dari rumah sakit, mereka menerima pasien yang meninggal akibat menerobos palang kereta api, korban itu adalah Zidane Ra” ucap ayah Zidane.
“Kalau Ka Zidane udah gak ada dari jam 4, terus siapa yang nemenin aku menikmati senja?” tiba-tiba tubuhku menjadi lemas dan seketika itu pula aku tidak sadarkan diri.
Seminggu kemudian..
Aira masih disini,tetap setia dengan sebuket bunga kamboja yang selalu ia tingglkan di atas batu nisan Zidane.
Semuanya terasa seperti mimpi,Zidae yang meninggalkannya dengan sangat tiba-tiba.
“Ka Zidane jahat, pergi tanpa pamit. Meninggalkan sejuta rasa sakit dan rindu secara bersaamaan” air mata itu selalu jatuh,setiap kali Aira datang kesini. Rasanya seperti kemarin ia baru saja bertemu dengan Zidane , kini dia sudah meninggalkan Aira untuk selamanya.
Aira mengusap batu nisan bernama ZINEDINE ZIDANE itu “ ka, izinin aku mendapatkan kembali kehidupan yang dulu lagi, bukan maksud melupakanmu. Aku hanya ingin bangkit dari keterpurukan ini” angin sore menerbangkan rambutnya yang di gerai “Ka Zidane akan tetap ada dihatiku dan selalu aku bisa rasakan kehadirannya di langit , karna Ka Zidane adalah senjaku.
Sore itu Aira kembali dengan perasaan yang lebih baik, dia akan melanjutkan hidupnya seperti sedia kala. Dia yakin itulah yang diingikan Zidane untuk dirinya.
Keren
BalasHapusAh,, makasihhh
HapusKeceww syifaaaa
BalasHapusHeheheh, maap😂
HapusGua merinding edan... Serem2 romance gtu ... Tp I like it.. good luck ��
BalasHapusWkwkw, emng ini film horor apa 😂 tapi tq yahh 😍
Hapus